Minggu, 16 November 2014

Renungan Pagiku


Sungguh mulia hatimu, aku malu pada Tuhanku karna telah diberi istri yang sangat baik sepertimu. Kemuliaan hatimu takpernah berkurang, bahkan kau begitu ikhlas membantu yang lain padahal seharusnya engkaulah yang lebih berhak dibantu. Disaat teman-temanmu butuh bantuan kau begitu ringan tangan. Di saat

Rabu, 05 November 2014

Tulisan Pertamaku





Tak terasa sudah dua setengah tahun aku meninggalkan sekolah tercinta ini. Dan hari ini aku datang ke sini dengan menyandang status maahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri untuk mengundang para siswa mengikuti olimpiade yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa jurusanku.
Ternyata sekarang sekolah ini jauh lebih maju dari pada ketika aku masih menjadi  siswa di sini. Sekolah ini telah menjadi sekolah RSBI dengan fasilitas yang serba WAH. Taman dengan kolam ikan yang indah dan tersambung dengan wifi, ruang kelas ber-AC, di meja guru terdapat satu set computer yang tersambung ke LCD, ada juga televisi dan sound system . Semua siswa di sini mempunyai laptop yang dulu ketika aku masih menjadi siswa merupakan sebuah benda yang sangat mewah. SPP di sekolah ini sekarang jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan SPP ku dulu, dan bahkan dengan SPP perkuliahanku sekarang. Dan itulah sebabnya aku sangat bersyukur menjadi salah seorang alumni sekolah favorit di kotaku ini.

Rabu, 10 September 2014

Dipaksa ke Kawah Putih (lagi)



 
lanscap kawah putih
Jakarta malam ini diguyur hujan deras. Mungkin para sejoli yang mau keluar mengisi weekend memaki langit yang mengguyur malam tanpa memperdulikan schedule kencan mereka. Malam ini pun aku ada agenda untuk nongkrong minum kopi bareng najikh dan febry di angkringan  dekat kosku, dan karena hujan pulalah agenda itu harus sedikit diundur sampai langit selesai menunaikan hajatnya. Sekitar pukul 8 malam najikh telepon bahwa rencana nongkrong diubah menjadi jalan-jalan ke bandung. Setelah proposal jalan-jalan di approve oleh istri , tanpa pikir panjang aku langsung ikut najikh dan febry untuk capcus ke bandung.

Selasa, 25 Februari 2014

BERKAH??




Berkah, apa sih berkah itu?
Kuk semua orang jadi adem kalo mendengar kata itu?
Kalo ada yang punya gaji kecil, pasti dia menghibur dirinya gak papa gaji kecil yang penting berkah..
Kalo ada yang lagi ulang tahun, dikasih ucapan”Barokallahu fi umrik” atau semoga umurmu berkah..
Kalo ada yang habis nerima sedekah pasti doain “semoga rizkimu berkah”

Senin, 28 Oktober 2013

Yang Kurasa



Ketika topik tak lagi penting

Membahas hal remeh bukanlah suatu yang sia-sia

Ketika terlihat bodoh tak lagi malu

Jumat, 06 September 2013

Camar Kecil



Aku mengagumi camar kecilku, walau dia tidak bisa berkicau dengan merdu, aku suka melihat kerja kerasnya, bersaing dengan para elang, menembus badai walau kadang sayapnya basah oleh hujan dan terpaan ombak. Aku mengagumi camar kecilku, aku kagum dengan kepakan sayapnya yang indah, aku terpesona dengan tingkahnya yang anggun, aku salut dengan perjuangannya bersaing dan bertahan hidup. Mungkin elang lebih gagah, tapi aku tak suka keganasannya. Mungkin merpati lebih jinak, tapi dia kurang mandiri. Mungkin murai kicaunya lebih merdu, tapi aku tak suka tingkahnya yang angkuh.

Camar kecilku. Walau bulunya tak seindah merak, tapi putih bulunya meneduhkan pandanganku. Camar kecilku. Walau dia tak secerdas beo tapi tingkahnya menarik hatiku. Camarku pendiam, tapi pada waktunya dia bisa berteriak dengan kencang. Malam itu kulihat dia terbang menukik, lelah mencari dahan untuk kakinya berpijak. Telah lama dia  terbang di atas deburan ombak. Kupanggil dia, wahai dara laut. Kemarilah..
Hinggaplah di hatiku jika kamu lelah..

Camarku, Aku rindu

Rabu, 04 September 2013

Masa Lalu Depan



Aku dilahirkan dalam keluarga miskin, apakah aku pernah mengeluh? Ya.. Aku sering mengeluh. Tapi itu dulu. Seserig apapun aku mengeluh aku tak akan bisa mengubah takdir yang telah berlalu. Kini aku bersyukur. Aku bersyukur karena Allah memberiku kesehatan dan kesempatan untuk berjuang melepaskan diri dari jerat kemiskinan.

Aku dilahirkan dari keluarga yang tidak berpendidikan, Apakah aku mengeluh? Ya.. Seringkali aku malu mendapati kenyataan bahwa bapakku hanya lulusan SMP dan Ibuku hanya jebolan SD. Aku iri pada teman temanku yang mempunyai orang tua berpendidikan tinggi sehingga tahu pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Tapi itu dulu. Kini aku bersyukur, Allah memberikanku kesempatan menyelesaikan pendidikanku hingga jenjang sarjana. Dan semoga anak-anakku kelak bisa menyelesaikan pendidikan sampai jenjang doctor, atau jika mungkin menjadi professor.

Aku dilahirkan dalam keluarga yang broken home, apakah aku pernah menyesal? Ya.. tapi itu bukanlah salahku, bukan pula salah ke dua orang tuaku. Aku bersyukur walaupun lahir dari keluarga yang broken home aku tetap bisa menjadi anak yang berprestasi dan berbakti kepada ke empat orang tuaku. Aku memiliki empat orang tua yang menyayangiku sepenuh hati mereka, aku mempunyai adik-adik yang lucu. Seorang bapak tiri yang luar biasa sabar dan berjasa dalam hidupku. Memang tak bisa kupungkiri, aku sering memimpikan keluarga yang utuh dan bahagia. Aku selalu berdoa dan berusaha semoga kelak seumur hidup aku hanya akan menikah satu kali dan terus bersama sampai ajal menjemput.

Apa yang telah lalu adalah cermin, tak elok mengendarai hidupmu dengan terus  menengok ke spion masa lalu. Masa lalu hanya kujadikan sebagai bahan koreksi untuk masa depan.  Tak bisa kupungkiri apa yang kucapai saat ini adalah hasil dari masa lalu. Tapi tak ada guna menyesali masa lalu sebagai mana tak berguna membanggakan prestasi yang telah lewat. Kurencanakan masa depanku. Saat ini aku hanya focus berusaha mencapai target-targetku di masa depan. Berbekal semangat dan doa, Aku yakin usahaku akan bermuara pada hasil yang indah. Bukan yang selalu kuinginkan. Tapi yang terbaik yang aku butuhkan.

BismillaH…
Semangat menggapai masa depan.. Mari rengkuh prestasi prestasi baru

Rabu, 28 Agustus 2013

Karimun Jawa Part 1

Konyol di Bumi Kartini



Tulisan ini bukan kutulis untuk curhat atau merebut simpati kalian, bukan pula aku ingin mengadu tentang nasip malang dan konyol yang telah aku lalui. Segala kemalangan dan kekonyolan yang aku alaami adalah harga yang harus kubayar dari pengalaman indah yang akan terus kukenang. Bukan untuk ku ulangi, tapi untuk kuperbaiki.

Rabu, 14 Agustus 2013

Rindu yang tak Tuntas



Selalu ada kesedihan yang mengiringi kebahagiaan, Selalu ada sendu setelah tawa mereda.. tepat tiga hari setelah kami jadian dia mulai merasakan hal itu
Di dinding facebooknya dia menulis “ I wanna see you now”..
Aku paham aku harus segera menemuinya, memupuk benih cinta yang baru kami tanam bersama. Setelah pulang dari Jakarta minggu pagi, Siang harinya aku langsung berangkat menemuinya ke Surabaya. Kupangkas inchi demi inchi jarak yang memisahkan. Tak kuhiraukan lagi rasa kantuk yang menggelantung di mata. Ku abaikan rasa lelah di badan akibat 12 jam diangkut kereta. Kupacu motorku di bawah terik matahari jalanan Lamongan-Surabaya. Tepat sebelum adzan ashar berkumandang aku tiba di depan kosnya.

Dia menemuiku dengan langkah kecilnya yang riang. Disembunyikannya raut wajah senang dalam senyum yang dikulum sopan. Kami mulai berbincang, perlahan kami usir JAIM dalam diri kami agar tak ada lagi rasa segan. Kukembangkan senyumku, kucoba mengatur kembali irama jantungku yang berdetak lebih cepat. Diam diam kupandangi wajahnya. Kuperhatikan dengan seksama bulu matanya yang lentik dan panjang. Sepasang daun telinganya dibiarkan alami tanpa anting. Bola matanya yang coklat dengan teduh menatapku. Belum puas kami berbincang, suara adzan ashar telah mengalun.
 “kamu sholat ashar dulu gich, aku tak mandi dulu, sholat, trus kita jalan” Pintanya..
Aku hanya menurut.. aku pergi sholat di masjid belakang kosnya, sementara dia kembali masuk ke dalam kosannya..
Setelah kami sama-sama siap, kami berboncengan berkeliling kampus tercinta, kampusku sepi.. merana ditinggal penghuninya mudik ke kampung halamannya masing-masing.
“Mau buka bersama dimana nich?  tanya ku
Terserah kamu aja dech.. kemanapun gak papa asal sama kamu..” jawabnya mulai berani merayu
Ke kampung steak gimana?
Ok..”
Kulajukan motorku ke arah bratang, jalanan Surabaya begitu lenggang dan nyaman, berbeda dengan jalanan ibu kota yang penuh sesak macet. Tak sampai 15 menit kami sudah sampai di kampoeng steak bratang. Masih satu jam lagi waktu berbuka. Kami gunakan waktu tersebut untuk saling bercerita, aku cerita tentang aktivitasku di Jakarta, sedangkan dia bercerita tentang study S2 nya. Sesekali kami saling berbagi rayuan dan saling olok dalam canda. Obrolan ringan tersebut tetap kami selingi dengan diskusi tentang devinisi masa depan dan kebahagiaan. Aku utarakan keseriusanku dengan hubungan ini, dan dia utarakan sanggup menunggu kapan orang tuaku datang memintanya.

Waktu bukapun tiba, kami berbuka puasa sambil bercanda. Itu adalah satu-satunya kesempatan berbuka puasa bersama di Romadhan kali ini. Esok hari ia harus mudik. Tak lama berselang hidanganku sudah tandas, sementara dia masih belum menghabiskan separuh makanannya. Aku tau dari raut wajahnya ia tidak berselera dengan menu makanan yang kami pesan, tapi demi menjaga perasaannku dia rela berbohong bahwa dia menyukainya. Setelah berbuka dan sholat magrib kami lanjutkan acara kencan pertama kami ke Mall royal, dia ingin foto box, sementara aku ingin mengajaknya nonton film wolverine. Mall sesak, parkir motor penuh. Sambil menunggu bioskop buka, kami langsung menuju tempat foto box. Setelah mengantri sekian menit kamipun berfoto. Layaknya orang yang baru kenal, kami sangat canggung dalam bergaya. Kebanyakan dari foto yang kami jepret dihapus ulang dan mencoba lagi bergaya. Ahirnya dari waktu yang disediakan, kami hanya menyelesaikan 15 photo dari 16 jatah yang diberikan. Benar benar konyol.

Selesai berfoto kamipun nonton, di dalam bioskop dia merangkul erat tangan kananku, sementara kepalanya disenderkan di pundakku. Tanganku membelai jemari tangannya yang mungil. Konsentrasiku terpecah antara menikmati jalannya cerita film atau menikmati hangat pelukannya. Kami lebih banyak diam, sibuk menikmati pikiran kami masing-masing. Kubiarkan dia lebih erat memeluk tanganku. Aku tau dia sedang mencoba mengangsurkan rindu. Hal yang saat itu juga sedang aku lakukan. Malam semakin dalam, aku mengantarkannya pulang ke kos jam setengah 12 malam. Setelah dia masuk kos, aku baru beranjak pergi menumpang tidur di kos salah satu adik kelas.

Aku tak mau buang buang waktu, pagi pagi aku kembali menemuinya di kosnya. Aku memintanya menemaniku belanja di sakinah, supermarket faforitku ketika masih menjadi mahasiswa. Setelah berbelanja kami kembali ke kosnya, duduk bersama sambil terus bercerita, cerita yang sama kami ulang tanpa bosan. Hal tolol yang lumrah dilakukan oleh manusia yang lagi kasmaran. Aku puaskan memandang wajahnya, kunikmati setiap canda dan senyumnya. Dan waktu itupun tiba, dia harus pulang ke kampung halamannya, kedua orang tuanya telah menunggu di tanah kelahirannya. Aku mengantarkannya ke setasiun gubeng. Sebelum dia masuk kereta kami berjanji akan saling menjaga hati.

Aku pulang dengan perasaan yang campur aduk, antara senang dan sedih. Sementara rindu di hatiku belum tuntas dan bahkan semakin menjadi-jadi. Aku tahu dia juga merasakan hal yang sama,
Dia selalu menulis kata yang sama dalam pesannya
“I Wish that you were here with me”
Sepenggal lirik lagu long distance dari Bruno Mars.

Sabar sayang, kita akan segera bertemu lagi..
Melanjutkan rindu kita.. ya rindu  yang tak Tuntas.


Jakarta 15-Aug-13

Selasa, 13 Agustus 2013

Penghias Lamunan

Dalam larut gelap malam
Wajahmu terlukis dalam kanvas mimpiku
dalam terang hamparan siang
Senyummu memagari setiap batas lamunku

Ku telah ungkapkan
Apa yang ada tanpa keraguan
Ku jangkau hatimu
Ku bawa menuju cinta halalku

Akan kita dayung biduk asmara
Berjelajah mengarungi seluk rumah tangga
Bercengkrama mesra di atas sungai cinta
Berpagut di bawah rindangnya pohon gairah

Kita bangun rumah kita bersama
Kita susun bata demi bata
Kita pasang pintu dan jendela
Kita rajut naungan atap yang teduh penuh kasih
Kita pulas dinding-dindingnya dengan cat canda

Tulislah puisi tentang kita
Kan kubingkai dalam frame cerita kita
Berdua kita lalui dengan doa
semoga semua indah pada waktunya.