Wirid Lebih Utama Ketimbang Pahalanya
Oleh: Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
Tidak
ada yang meremehkan konsistensi wirid (ketaatan di setiap waktu)
kecuali orang yang sangat bodoh, karena warid ( pahala wirid) itu akan
di dapat di negeri akhirat, sedangkan taat atau wirid itu akan lenyap
bersama lenyapnya dunia ini.
Sedangkan yang lebih utama untuk
diprioritaskan adalah yang wujudnya tidak bisa diabaikan. Wirid adalah
HakNya yang harus anda laksanakan. Sedangkan warid adalah sesuatu yang
anda cari dariNya. Mana yang lebih utama antara sesuatu yang dituntut
oleh Allah padamu, dibanding apa yang anda tuntut dari Allah?
Mayoritas
ummat ini lebih banyak berburu pahala dan janjinya Allah swt. Dalam
segala gerak gerik ibadahnya. Padahal yang lebih utama adalah ibadah dan
kepatuhannya itu sendiri. Sebab kepatuhan dan ubudiyah yang dituntut
oleh Allah swt, dan menjadi HakNya, itu lebih utama dibanding hak kita
yang besok hanya akan bisa kita raih di akhirat.
Sebab kesempatan
melaksanakan HakNya saat ini dibatasi oleh waktu dunia, dan akan habis
ketika usia seseorang itu selesai. Karena itu semampang di dunia,
ibadah, amal, wirid harus diperbanyak sebanyak-banyaknya. Soal pahala
dan balasan di akhirat itu bukan urusan kita. Manusia tidak berhak
mengurus dan menentukan pahalanya. Semua itu adalah haknya Allah swt.
Yang telah dijanjikan kepada kita, karena merasa menginginkannya.
Ibnu Athaillah lalu menegaskan, mana lebih utama tuntutan anda apa tuntutan Allah?
Disinilah lalu berlaku pandangan:
1. Taat itu lebih utama dibanding pahalanya.
2. Doa itu lebih utama dibanding ijabahnya.
3. Istiqomah itu lebih utama dibanding karomahnya.
4. Berjuang itu lebih utama dibanding suksesnya.
5. Sholat dua rekaat itu lebih utama ketimbang syurga seisinya.
6. Bertobat itu lebih utama ketimbang ampunan.
7. Berikhtiar itu lebih utama ketimbang hasilnya.
8. Bersabar itu lebih utama ketimbang hilangnya cobaan.
9. Dzikrullah itu lebih utama dibanding ketentraman hati.
10. Wirid itu lebih utama ketimbang warid.
11. dan seterusnya.
Para
sufi sering mengingatkan kita, “Carilah Istiqomah dan jangan anda
menjadi pemburu karomah. Sebab nafsumu menginginkan karomah sedangkan
Tuhanmu menuntutmu istiqomah. Jelas bahwa Hak Tuhanmu lebih baik
dibanding hak nafsumu.”
Abu Syulaiman ad-Darany menegaskan,
“Seandainya aku disuruh memilih antara sholat dua rekaat dan masuk
syurga firdaus, sungguh aku memilih sholat dua rekaat. Karena dalam dua
rekaat itu ada Hak Tuhanku, sedangkan dalam syurga firdaus hanya ada hak
diriku.”
Sufinews.com